PANJI: Ketika Dedikasi Guru Menjadi Jembatan agar Murid Tetap Bersekolah
KEDIRI — Menjadi guru bukan sekadar hadir di kelas, menyampaikan materi, lalu memberikan penilaian. Bagi Ardillah Manis Sekar P., S.Pd., guru Perhotelan SMK Negeri 2 Kediri, menjadi guru berarti hadir ketika seorang murid membutuhkan jalan untuk tetap belajar dan mempertahankan masa depannya. Semangat itulah yang melahirkan praktik baik PANJI: Perjuangan Menyalakan Jembatan Inklusi, Dedikasi Guru dalam Memutus ATS (Anak Tidak Sekolah) melalui Lab Maya Coffeepreneur.
SMK Negeri 2 Kediri berada di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, dengan sekitar 2.300 murid dari delapan kompetensi keahlian. Murid-muridnya berasal dari beragam latar belakang dan wilayah, tidak hanya dari Kota Kediri, tetapi juga berbagai kecamatan di Kabupaten Kediri. Di balik keragaman itu, setiap murid membawa cerita dan tantangan yang berbeda untuk dapat terus memperoleh pendidikan.
Ketika Ketidakhadiran Murid Bukan Sekadar Angka Presensi
Perjalanan PANJI bermula ketika seorang murid bernama Selly tidak hadir di sekolah selama beberapa hari. Sebagai wali kelas sekaligus guru mata pelajaran, Ardillah memilih tidak berhenti pada pencatatan presensi. Ia mendatangi langsung rumah Selly di Dusun Jugo, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, sekitar 40 menit perjalanan dari sekolah.
Di sana ia menemukan bahwa Selly bukan kehilangan semangat belajar. Persoalannya jauh lebih sederhana, tetapi berdampak besar: Selly tidak lagi memiliki kendaraan untuk berangkat ke sekolah. Jarak yang jauh dan tidak adanya transportasi umum membuatnya terputus sementara dari ruang kelas.
“Ketidakhadiran seorang murid bukan sekadar nama kosong di daftar presensi. Di baliknya bisa terdapat perjuangan yang harus kita dengarkan dan jalan keluar yang harus kita cari.”
Ardillah kemudian menetapkan dua langkah sekaligus: mencari jalan agar Selly dapat kembali hadir di sekolah dan memastikan proses belajarnya tidak berhenti selama persoalan transportasi belum terselesaikan.
Lab Maya Coffeepreneur Menjadi Jembatan Belajar
Pada saat itulah Lab Maya Coffeepreneur memperoleh makna yang lebih luas. Media pembelajaran digital ini awalnya dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan alat dan bahan praktik barista. Melalui simulasi, murid dapat mengenal peralatan, bahan, prosedur kerja, proses pembuatan kopi, pelayanan, hingga konsep coffeepreneur sebelum masuk ke praktik nyata.
Ketika Selly belum dapat hadir secara langsung di sekolah, Ardillah memberikan bahan belajar melalui Lab Maya Coffeepreneur. Selly tetap dapat mempelajari fungsi alat, bahan, tahapan kerja, serta proses pembuatan minuman kopi dari rumah dengan pendampingan guru. Bagi Ardillah, Lab Maya bukan lagi sekadar media digital, melainkan jembatan yang menjaga agar hak belajar murid tetap terbuka.
Dedikasi yang Tidak Berhenti pada Teknologi
Ardillah menyadari bahwa teknologi bukanlah akhir dari solusi. Tujuan utamanya tetap mengembalikan Selly ke sekolah. Ia mencari murid lain yang memiliki jalur perjalanan yang sama dan menemukan Dina, murid dari kelas berbeda tetapi masih satu jurusan, yang rute perjalanannya melewati wilayah tempat tinggal Selly.
Ardillah kemudian mendatangi rumah Dina dan berbicara dengan orang tuanya. Ia menjelaskan kondisi Selly serta meminta izin agar Dina dapat memberikan tumpangan menuju sekolah. Keluarga Dina memahami keadaan tersebut dan bersedia membantu. Keesokan harinya, Dina menjemput Selly dan keduanya kembali berangkat ke sekolah bersama.
Bagi orang lain, hal itu mungkin hanya sebuah tumpangan. Namun bagi seorang murid yang hampir kehilangan akses pendidikan, tumpangan tersebut menjadi jalan untuk kembali belajar, bertemu teman, dan melanjutkan cita-cita.
Dari Layar Menuju Praktik Nyata dan Dunia Kerja
Lab Maya Coffeepreneur kemudian terus digunakan sebagai jembatan antara pembelajaran digital dan praktik nyata. Setelah mengenal alat, bahan, prosedur, serta urutan kerja melalui simulasi, murid membawa pemahaman tersebut ke laboratorium praktik. Waktu praktik menjadi lebih terarah karena murid telah memiliki gambaran tentang apa yang harus dilakukan.
Dampaknya terlihat pada meningkatnya kepercayaan diri murid ketika berhadapan dengan peralatan barista. Dalam naskah dedikatifnya, Ardillah mencatat adanya murid kelas XI Perhotelan yang bekerja paruh waktu sebagai barista dan merasakan manfaat Lab Maya untuk memahami peralatan serta alur pembuatan kopi sebelum menghadapi situasi kerja nyata. Bekal serupa juga membantu murid saat Praktik Kerja Lapangan di bagian Food and Beverage Service.
Inovasi ini tidak berhenti pada satu kelas. Ardillah mendiseminasikan Lab Maya Coffeepreneur kepada rekan guru Perhotelan dan Kuliner di Kota Kediri maupun di luar Kota Kediri. Sebagai bentuk keseriusan menjaga karya, bahan ajar Lab Maya Coffeepreneur juga telah memperoleh pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
PANJI: Pendidikan Dimulai dari Kepedulian
PANJI menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu berawal dari teknologi yang rumit. Ia dapat bermula dari satu pertanyaan sederhana seorang guru: “Apa yang dapat saya lakukan agar murid ini tetap bersekolah?” Dari mendatangi rumah murid, mendengarkan persoalannya, menjaga proses belajar melalui Lab Maya, hingga membangun kepedulian antarmurid, Ardillah menunjukkan bahwa dedikasi guru adalah keberanian untuk hadir ketika pendidikan seorang anak berada dalam risiko.
Bagi Ardillah, Lab Maya Coffeepreneur lahir bukan sekadar dari sebuah ide, tetapi dari rasa peduli dan empati terhadap perjuangan murid. Dari kesediaan meluangkan waktu, datang, mendengarkan, dan mendampingi satu per satu sesuai kebutuhannya, lahirlah sebuah jembatan antara keterbatasan, pembelajaran, dan harapan masa depan.